4/04/2013

Sekelumit 13-03-13 dan 14-03-13


@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@

Memulai perjalanan dengan pamit dari oratu. bil khusus ayahanda tercinta. saya meminta ijin memenuhi undangan PUSHAM UII pada pelatihan diseminarsi HAM dan HUMANITER internasional. tahukah dikau apa itu diseminarsi? diseminarsi sebutan sederhana adalah penyebaran doktrin. atau istilah mudahnya mengajari dan menjelaskan apa itu HAM dan HUMANITER. 
Tema yang (mungkin) dinilai hal yang aneh untuk anak seumuran saya yang juga "baru". 
sedihnya, ayah hanya mendiamkan saya tanpa memberi pernyataan mengijinkan. Boleh atau tidak, meski tetap mengijinkan pula.

Ok, singkat cerita akhirnya saya pun berangkat, meski dalam kondisi memendam ganjalan dari ayah.

Setiba saya di hotel cakra kusuma, saya sudah terlambat kurang lebih setengah jam.mendadak tubuh saya sedikit menegang, ketika mendapati sosok asing berdiri tegak sebagai pemateri. 


"Halah! apa pula ini"


Sesosok bule berdiri di tengah aula. Tubuhnya menjulang tinggi, mengenakan batik yang dibalut jas hitam. Suaranya membahana, menyihir para peserta. Saya terhenyak dan merasa aneh. Kemudian saya pun menengok ulang daftar acara yang sempat dikirim melalui email. Berangsur saya memngetahui bahwa ternyata sosok asing itu perwakilan dari ICRC. delegasi ICRC yang memiliki cabang di Indonesia. 


Sedikit beradaptasi, saya pelan-pelan berdamai dengan sikon. Sebelumnya, saya sempat menelaah sekilas terkait tema ini, karena memang background pribadi dan akademis bukanlah dari hukum. bila hukum Islam mungkin masih saya dapatkan bekalnya, tapi ini hukum international yang berusaha netral tanpa bicara agama.


Dengan berjalannya waktu, saya mulai memasuki menit-menit sesi pertama. Adalah Irene Herbeet, nama pemateri itu disebut oleh seorang teman, menjelaskan apa itu ICRC (International Comitte of the Red Cross).

dalam bahasa buminya adalah Komite Internasional Palang Merah.

dia memperkenalkan ICRC sekaligus menjelaskan visi misi yang diemban. 


ICRC didirikan oleh Henry Dunhant. warga negara Swiss yang terpanggil hati nuraninya begitu mendapati betapa memprihatinkannya para prajurit perang. seolah nyawa tidak berharga sama sekali. Dia terpanggil untuk merawat mereka yang masih hidup dan mengebumikan yang sudah mati. Nah, untuk lebih detailnya, silakan aja lari kesini ==> 


http://id.wikipedia.org/wiki/Komite_Internasional_Palang_Merah


dari sana kemudian mengetengahkan apa itu HAM dan Humaniter.

HAM mungkin sudah biasa di kalangan masyarakat umum yang tak banyak bersinggungan dengan hukum. Bila HAM sekilas diyakini adalah sebuah aksi pelestarian kemuliaan atau eksistensi manusia, maka untuk humaniter pun demikian. hanya saja, ada beberapa hal yang memebedakan keduanya.

1. wilayah kerja

2. subyek yang dikenai hukum
3. ?

untuk teori macam ini, saya bukan ahlinya, karena memang mengenal tentang ini, tergolong hal yang baru. Ada hal yang sedikit unik, minimal bagi saya pribadi. Saya benar-benar tak nyaman dengan bahasa yang dia bawakan, karena dia belum bisa menguasai bahasa Indonesia, maka terpaksa bicara dengan bahasa inggris. Bahasa inggris saya memang tergolong ketat. pasif dan saya dahulu memang membenci pelajaran ini. ternyata belajar saya dulu meski secara terpaksa, memiliki efek gunanya pula. "Little-little I can lah" bahasa gaulnya. 


Dengan bantuan seorang penerjemah, saya terus mendamaikan diri dan sedikit mengembangkan diri sendiri. Oke, tak baik memang jika memendam kebencian. Saya tetap harus mengikuti materi dan keep calm. Tak ada ruginya mendengarkan.


Waktu berlalu hingga di ujung sesi Ishoma. Kami semua berpencar, ada yang shalat, santai, dan makan siang. sewaktu saya makan siang, seorang teman membisikkan: "Mister Irene want to talk with you".


Serasa digebuk palu godam dari belakang. Bagiku itu suatu hal yang gila. Bagaimana tidak, saya hanya seorang anak gadis mungil nan unyu yang barusaja bisa mengelap ingus sendiri. sementara para peserta di acara ini adalah kalangan akademisi. Mereka orang-orang lebih hebat dari saya. Mereka lebih pantas untuk berbincang dengan sosok besar macam dirinya. sedangkan saya hanya anak kampung yang mendapatkan undangan acara saja. itu saja. 


"Mengapa tiba-tiba harus saya?" tanyaku aneh dan keki.

"Ya, dia tahu kamu bisa bahasa arab. Dia juga bisa, karena sudah sekira 15 tahun keliling di negara-negara timur tengah." jelas teman saya itu bersemangat.

Bukannya saya berbunga-bunga, tapi malah merasa gila. pria itu bak raksasa di gurun sahara. saya benar-benar tak nyaman. Satu hal yang menjadi stereotip di benak saya tentang dirinya adalah dia bule non-muslim. Entahlah, tiba-tiba saja yang tergambar di pikiran saya adalah tentara penjajah.


"Dia juga penasaran dan ingin bertemu abahmu." tandas teman saya itu lagi. wajah bangganya menyeruak gagah karena merasa serba tahu tentang saya, yang itu makin membuat saya jengah.


"Saya tak mau. Silakan kalau dengan ayah atau abah saya." jawabku lugas. mimik muka masamku membuatnya terhenyak.


"Eh, dia itu lucu loh. Orangnya menyenangkan."

"EGP!" tutupku tak mengindahkan. 

saya tahu, dia pasti kecewa. Jika saya bilang tidak mau, ya jangan memaksa. Semakin saya dipaksa semakin saya tidak suka.


Lucunya, ada seorang peserta lain yang dia itu ngebet dan terobsesi sangat dengan Mr. Bule. Segala gayanya banyak yang diabadikan di BB-nya. Tapi, mengapa Mr. Bule itu tidak mengajaknya saja. Padahal jelas dia sangat menginginkannya. Malah terbalik denganku.

Kemudian acara pun dilanjutkan melalui sesi demi sesi. dari sekian banyak sikap dan jeda waktu, saya tahu pria itu berusaha mencari celah dan kesempatan untuk bisa berbincang dengan saya. Bahkan ketika saya ke kamar mandi pun, dia juga butuh ke kamar mandi dan tampaknya belum ada keberanian untuk memulainya. saya masih bersikukuh dan tidak memberi kesempatan apapun. sedikit saya bersyukur memiliki wajah super serius, yang tidak mudah orang mempermainkan saya.


***


Hari kedua


Saya dijemput pukul 07.00 wib, menuju lokasi acara. Setiba di lokasi belum ada yang datang selain seorang panitia. Kami termasuk as-saabiqunal awwalun, karena peserta belum semuanya hadir. Akhirnya saya mengambil posisi strategis dan mempersiapkan diri mengikuti sesi acara lanjutan. Pria bule itu giat juga ternyata. sepagi ini dia sudah rapi. 


Teman saya menyapa dengan sapaan yang hangat. saya pun turut menatapnya sebagai penghormatan. Tanpa kata saya hanya mengangguk respek padanya. Pada saat itu, saya masih terngiang bisikan teman saya kemarin. Olehnya bagaimanapun saya merasa jengah, tetap saya bersikap respek karena dia adalah orang berilmu. 


tentu saja, bule itu juga tersenyum. Mirip senyuman ari wibowo. saya bukan terkesan dengan senyumnya, tapi lebih pada imajinasi liar yang mengarah senyuman itu tak ubahnya seringai para penjajah. 

Ah, sudahlah! Saya pun segera menyudahi dialog diri sendiri dan mengajak berbincang dengan teman di samping saya. 

Waktu terus berlalu, meretas menit-menit membanjir dalam kubangan ilmu. Sesekali kami sebagai anggota majlis mengajukan pertanyaan dan komentar dalam diskusi. Saling berbagi dan memberi. hingga tak terasa sesi breaking tiba.


Snack berjajar menanti sapaan dan belaian peserta. Saya menunggu suasana lengang agar tidak berdesak-desakan dengan mereka. Kemudian setelah lengang, baru saya pun melangkah  untuk menikmati snack itu. Beberapa peserta telah duduk rapi usai mengambil terlebih dahulu. tak disangka dan tak diduga, sang mister dan teman saya tadi sudah berdiri di belakang saya. 

"Ummi... mister mau ngomong sama kamu, lho"


Aawww... 


Saya pun gemetaran tak keruan. Ya Allah, ini benar-benar cetar membuaya. Satu hal yang ingin dan sangat ingin saya lakukan adalah... berteriak sekencang-kencangnya!


tapi itu tak mungkin. rasa jijik yang menyeruak sedikit mereda begitu saya membalikkan badan. pria bule itu setinggi 2 meter. Bak raksasa yang hendak menelan tubuhku yang mungil.


satu pertanyaan yang pertama kali dia ucapkan.


"Aina Ta'allamti?" 


Artinya "Dimana kuliahmu?". dari pertanyaan ini saya sedikit bisa memaafkan perbincangan ini. Setidaknya dia bisa meyakinkan saya bahwa dia bukanlah pria bule pada umumnya. Dia bukanlah bule yang jahat, mesum dan durjana. yang pasti dia tidak melihat seseorang berdasarkan fisik, tapi intelektual. Urusan hati siapa yang tahu. Hanya saja, kalimat pendek itu berhasil meruntuhkan cara pandang saya yang mungkin terlalu prematur. Saya sedikit luluh.


"Aamm... Al afwu mink ya sayyid. Fainny lam atahayya' li atakallam ma'ak. Ana murta'isah" jawabku seketika sambil memamerkan deretan gigiku menyeringai.


(Maaf, tuan. saya belum siap bicara denganmu. Saya gemetaran nih)

"Kalla...kalla" balasnya singkat upaya menenangkan.


huft, memangnya yusuf kalla. Bukan, saya bukan yusuf kalla. Batinku ngelantur.


"Ana yakhtalith bayna faransy, yamany, urdun, falistin... bla...bla..." Tampaknya dia ingin menjelaskan bahwa dia mampu menguasai beberapa bahasa, yang kalimatnya itu sedikit agak aneh bagiku. 


Saya hanya menggelengkan kepala sambil mengangkat gelas di tangan kanan dan snack di tangan kiri, sambil meminta maaf bahwa saya belum siap untuk berbincang dengannya. 

"Lakin bi hudu' ya sayyid. ente tatakkallam ma'al andunisy. La yaqbalu agresif." sergahku lugas sambil memohon maaf. Saya ingin dia tahu bahwa mendekati perempuan muslimah Indonesia itu tidak dengan cara yang agresif macam itu. Bule itu pun melotot sambil gelengkan kepala dan tersenyum dikulum.


Bisa dibayangkan, seketika itu juga semua mata memandang ke arah kami. Saya hanya bisa serah sambil menahan muka memerah. Rasa malu merajai diri. Beberapa ku dengar celetukan, "dia tadi bicara apa?"


Buff!


Pada akhir sesi, kami pun mulai bisa mencair. Terutama beberapa pertanyaanku yang mulai menyinggung soal agama/ideologi. Padahal apa yang dibahas dalam kemanusiaan itu rentan untuk bicara ideologi. Cairnya suasana ketika dia mulai menanggapi segala tanya dan komentar yang saya lempar. Bahkan sempat saya minta dia menjelaskan dengan bahasa arab,bukan bahasa inggris. Tentu saja, itu makin menggegerkan audiens. 

Saya tak peduli. 


semua berjalan normal hingga di akhir sesi. 


Acarapun selesai, kami semua melangkah keluar pergi meninggalkan lokasi. Satu persatu peserta pergi, sementara aku menunggu jemputan adikku. 

Tiba-tiba saja seseorang menyapaku...

"Ma'assalamah, Ilaliqa'"


itu merupakan sapaan sayonara.

wajahku menengadah memastikan suara. ternyata sesosok pria bule yang menjulang tinggi itu sumber suaranya. tubuhnya sedikit membungkuk untuk menyesuaikan wajahku yang menunduk.


Kami pun tertawa.


"mm... ya sayyid. ufadhdhiluk litahdhura ila bayty, wa abaty." sergahku ramah. saya mempersilakannya untuk bertandang ke rumah.


"hmm, bissurur alath thab'i. walakinn... ayna ta'allamti?"


sekali lagi pria itu bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dia bertanya dimana saya kuliah. Mengapa pula saya bisa gabung di PUSHAM UII. Apakah saya termasuk anak-anak universitas Islam Indonesia.

Saya sempat bingung bagaimana menjelaskannya.

"Ana ta'allamtu tahta tarbiyati aby wa ashdiqa'ih."

mau tak mau saya hanya bisa menjelaskan bahwa saya berkembang di bawah pendidikan ayah dan teman-temannya.

"Oo... tarbiyatun shahihah, ye."


Dia menegaskan bahwa pendidikan orangtua adalah pendidikan yang baik.

Kami pun tertawa bersama.


Saya senang orang ini memperhatikan dunia pendidikan. Bukan materi maupun fisik yang serba-serbi.




@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@
Continue Reading...

3/08/2013

APA DIBALIK HIJABER, JILBABER & KHIMARER ((","))



Serupa tapi tak sama. Mungkin itu kondisi tiga kata berikut; Hijab, jilbab dan khimar. Tak disangka pasti deh, banyak dari kita yang masih kabur memahaminya. Sejatinya ketiga istilah itu beda makna loh. Bahkan Syaikh Al-Albani mengungkapkan banyak pula dari kalangan asatidz yang belum bisa membedakan secara terperinci. Tapi tak masalah, yang penting bagi muslimah tidak boleh buta soal ini. Bukankah itu sandang terdekatnya dalam segala aktivitas maupun gaya hidupnya.

AL-HIJAB

Kata Abu Syuqqah: “sudah jadi tradisi umat, khususnya masyarakat muslim, menganggap pakaian syar’i itu disebut “Hijab”. Sehingga wanita yang mengenakannya mereka sebut hijaber. Padahal hijab itu sesuatu yang menghalangi antara dua pihak, sehingga satu sama lain itu tidak saling melihat. Demikian pula makna hijab pada surat Al-Ahzab: 53
“Dan bila kalian meminta suatu barang dari mereka (ummahatul mu’minin) maka mintalah dari balik tabir.”
Al-Hijab di atas jelas bermakna tabir/pembatas antara majlis laki-laki dan perempuan, baik berujud tirai, tembok, papan, atau sekat. Artinya jika sahabat Rasul saw non mahrom berbicara dengan istri-istri nabi saw, maka harus ada pembatas diantara mereka. So, para lelaki ajnabi itu tidak berkomunikasi dengan ummahatul mu’min secara langsung. Sebagaimana banyak diulas sejarah, bahwa para istri nabi saw tidak boleh keluar jika tak ada keperluan mendesak. Kalaupun keluar, mereka harus menggunakan penutup wajah. Fungsinya itu sebagai pengganti tabir. Olehnya, tabir disini bisa berbentuk dua macam: tabir yang dipasang bisa beruba kain kelambu atau papan, dsb. Yang kedua, tabir yang ditutupkan diwajah. Bisa cadar, celemek, sapu tangan, gombal atau buku mungkin.

Hal itu diperkuat dengan adanya bunyi ayat lanjutan: “cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka”. Nash itu menunjukkan bahwa bertanya di balik tabir itu lebih aman dan sebagai aksi antisipasi dari berbagai penyakit hati. (terlalu cantik kali yak, mpe melongo).

Nah, seandainya yang dimaksud Al-Hijab itu kain yang menutup seluruh tubuh wanita dengan jilbab, maka jadinya hanya berfungsi menghalangi laki-laki memandang perempuan, dan tidak menghalangi wanita memandang lelaki. Padahal pada ayat tersebut jelas ada hubungan timbal balik disana.


Ada juga nih, dalil lain dari sejarah resepsi Nabi Muhammad saw dengan Zainab binti Jahsyi. Para sahabat diundang. Pada saat resepsi sudah selesai, para tamu beranjak pulang. Akan tetapi ada beberapa sahabat masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul tak pasti. Rasulullah saw merasa rikuh untuk mengusir mereka, tapi tetap merasa terganggu. Diusir, tak enak. Dibiarkan, tak peka sekitar. Beliau hanya mondar mandir dan keluar masuk tak jelas. Zainab binti jahsyi sendiri sudah mulai tak nyaman, dia hanya memalingkan wajahnya ke arah dinding saja.

Kemudian Allah menurunkan ayat hijab. Saat itupun rasulullah saw segera mengeraikan tirai pemisah antara zainab dengan para tamu. Para tamu pun mulai tak nyaman dan membaca situasi untuk sadar diri. mereka pun bangkit, mohon pamit. (Uh, nggak dari tadih!)

Dengan demikian, jika hijab berarti menutup seluruh tubuh, mengapa zainab harus memalingkan wajah segala? Jika wajahnya tersingkap tanpa cadar, tentu rasulullah saw menyuruh untuk menutupinya tanpa repot mengeraikan tirai kan?
Hmm, asal tahu aja ya, ayat hijab itu wajib berlaku untuk istri-istri rasulullah saw. meski hanya diwajibkan untuk mereka semata, tak ada ruginya jika itu diteladani muslimah pada umumnya.


AL-KHIMAR

Orang indonesia mengistilahkannya kerudung. Ayat tentang khimar ini ada pada surat An-Nur: 31
“Dan katakan pada mu’minat,... hendaknya mereka menjuraikan kerudung-kerudung mereka di atas dada mereka.”



Sebelum ayat ini turun, para perempuan di zaman itu pada umumnya menjuraikan kerudung mereka ke arah belakang (punggung). Sehingga dada, leher, jalinan rambut dan daun telinga mereka tampak vulgar begitu saja. Bahkan mereka juga terbiasa mengenakan pakaian dengan belahan dada rendah. Hal itu disebutkan dalam kitab ibnu katsir, fenomena seperti itu membuat Asma’ binti Martsad merasa risih, padahal dia sendiri seorang wanita.

“Buruk amat pemandangan ini,” keluhnya suatu kali, saat perkumpulan ibu-ibu PKK (hehe...) di kelurahan bani Tsaqifah. (mang udah ada kelurahan yak?).

Nah, akhirnya turun ayat ini yang mengulas segenap muslimat (baik yang merdeka maupun budak) untuk menggeraikan kerudung mereka ke arah depan.
Artinya: BATAS MINIMAL PANJANG KERUDUNG ITU TERJURAI HINGGA MENUTUPI DADA. TAK BOLEH DIKURANGI, KALAU DITAMBAH BOLEH


AL-JILBAB

Istilah ini tak asing buat masyarakat kita, khususnya Indonesia. Sekalipun rata-rata muslimat masyarakat kita tak mengenakannya, tapi begitu kata itu disebut, semua pasti tahu dan paham apa itu jilbab. Populer sangat!
Namun, perspektif mereka dengan Al-Qur;an dan sunnah boleh dibilang kurang pas alias berbeda. (surat Al Ahzab: 59)
Jilbab merupakan pakaian yang dikenakan oleh wanita muslimah di atas pakaian biasa dan kerudung. Jadi ukuran jilbab itu lebih besar dan lebar dari kerudung. Jilbab dikenakan ketika keluar rumah, sedang khimar dikenakan di rumah, baik ketika bertemu dengan lelaki ajanib atau tidak. Hal itu terjadi di kalangan muslimat era rasulullah saw. (Ah, yang bener?!)
1.    Dari Suba’iyah Al Aslamiyyah: ...ketika aku sudah bersuci dari nifas aku berhias untuk para peminang, maka Abu Sanabil datang menemuiku untuk menegurku. “Tampaknya kamu bersolek supaya ada yang tertarik padamu, lalu meminangmu ya? Demi Allah, itu nggak boleh, kecuali kalau sudah melewati masa 4 bulan 10 hari lohh...” (emang khuruj? :p). Mendengar itu aku pun bergegas merangkapkan pakaianku dengan jilbab, lalu keluar menemui rasulullah saw [sebagaimana diriwayatkan imam Bukhary-kitab Maghazy dam Muslim Kitab thalaq].
2.    Dari Fathimah binti Qais: Suamiku, Abu Amr bepergian jauh, lalu dia mengutus iyash bin Abi Rabi’ah untuk mengabariku bahwa ia menthalaqku, seraya mengirim 5 sha’ kurma dan gandum sebagai tunjangan. Lalu aku menanyakan padanya “Apa tidak ada nafkah selain ini? kan aku nggak melewati masa iddah di rumahnya?” aku pun dijawab: tidak. Lalu aku ikatkan pakaianku dan keluar menemui rasulullah saw. [imam Muslim-Kitab thalaq]
Dari 2 riwayat itu minimal kita tahu sekarang, subai’ah mengenakan pakaian penutup aurat pada saat menemui Abu Sanabil di rumahnya. Kemudian ketika menemui rasulullah saw, dia merangkapkan pakaiannya dengan jilbab. Hal itu juga terjadi pada fathimah binti qais, ketika bertemu dengan iyash, dia mengenakan pakaian biasa dan merangkapnya ketika keluar dari rumah.

Lalu bagaimana prakteknya sekarang ini, apakah mengenakan jilbab itu tetap diwajibkan?
Hm, melihat latar belakang terjadinya adat seperti itu, adalah pada zaman rasul saw, rangkap khimar dan jilbab berfungsi untuk membedakan antara wanita kalangan budak dan orang merdeka. Sebab, bagi lelaki hidung belang, keisengan mengganggu wanita tak bisa dihindari. Sejak zaman baheula. Dengan adanya perbedaan itu sebagai antisipasi agar tidak digodain atau disuitin.

Kalau di zaman seperti ini, tidak berlaku lagi perbudakan. Memang. Akan tetapi hasil keteladanan adalah tetap dianjurkan. Bukan lagi hal yang wajib.

So, selagi syarat-syarat menutup aurat sudah sesuai syari’at, tak mengapa tanpa merangkap pula. Asal tidak transparan saja.

Continue Reading...

2/06/2013

Perempuan Berkelambu Senja


&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

"BERCERMINLAH SEBELUM CERMIN ITU RETAK BERKEPING"


Mobil berhenti di muka masjid. Ayah, ibu dan saudara-saudaraku turun untuk shalat. Sementara aku duduk di jok belakang, memperhatikan mereka. Aku tidak shalat jadi tidak turun ke masjid. Begitu mereka semua sudah turun, pintu mobil ditutup.
JdeeR!
Senyap dan sayup. Suara benginging kesenyapan terkadang melintas di pendengaran, lalu hilang. Aku tak melompong dalam diam. Belum pasti enaknya apa yang aku lakukan?
Dari balik kaca mobil, tampak lalu lalang orang yang hendak mengikuti jama’ah shalat di masjid itu. Ada yang tenang, ada pula yang setengah tergopoh bahkan lari. Ragam tingkah mereka, meski satu pikiran, yaitu antusiasme shalat berjama’ah. Terasa indah. Kebetulan masjid yang aku dan keluarga singgahi itu ada kolam ikannya. Kolam itu terletak di muka teras masjid, halaman depan. Adikku ‘setengah’ bungsu duduk manis memperhatikan panaroma eksotis kolam buatan itu.
Jilbab pinknya berkibar lebar dipermainkan angin. Wajah imutnya menempa tatapan unik, disela hiasan bibir mungilnya yang merah delima. Sesekali pipi chubbynya bergerak lembut, bak detak ubur-ubur. Itu karena bersih dan terang yang terpancar dari kulitnya. Tubuh kecil khas gadis mungil duduk menyempil di ujung kolam. Kini, dia jelang 1 smp. Mulai beranjak remaja. Padahal rasanya baru saja kemarin aku menimangnya sebagai bayi, mengejarnya dalam bermain, dan berantem memperebutkan susu bubuk yang dijadikan bedak.
Ah adikku...

Hei, adikku berapa umurnya sekarang? Dia anak millenium. Berjarak 14 th denganku. Sejenak ku tersentak dengan umurku sendiri. Menilik masa silamku berawal terlahir di dunia ini. Kini ku tak muda lagi. Ternyata aku mulai menua. Terbengong aku pada diriku sendiri. Ya Allah, diusiaku ini ayah masih sanggup bersabar menanggungku. Aku terlalu kekanak-kanakan. Rasanya aku baru menginjak umur 20 tahun saja. Tak ada istimewanya. Aku masih suka melompat-lompat, bercekikik ria, lari sana lari sini, melempar apa saja yang ingin ku lempar, dan tak terkecuali ndilati aspal.
Aku tak habis pikir, betapa besar ni’mat Allah berupa ayahku ini. Tanggungan sebagai kepala keluarga saja, jika dihitung-hitung tak kuat rasanya. Apalagi sebagai seorang lelaki. Tanggungjawab memimpin anggota keluarganya yang perempuan. Tidak hanya satu dua pula. 10 perempuan ada di pundaknya. Belum lagi ragam sifat yang musti ditelateni. Tiba-tiba saja, aku menangis... tak tega
Aku menyadari betapa aku mencintainya dengan segala keegoisan, dan entahlah dengan keikhlasan. Aku merutuki diriku, benar-benar memalukan. Beberapa waktu lalu, sebelum agenda safar ke Lamongan, aku sampaikan pada ayah bahwa aku sangat membutuhkan pendamping safar. Satu persatu ayah menanyakan saudara lakiku. Ku jawab apa adanya, kendala kesibukan dan agenda masing-masing. Aku bermaksud mungkin ayah akan memberikan solusi dengan menunjuk kakakku yang lain.
“Ya, bagaimana lagi ya,” kata ayah memecah keheningan diantara kami. ujarnya lirih tanpa solusi harapan.
Aku sendiri tak mau pula memaksa mereka menyanggupi, tapi aku hanya mengupayakan saja. Toh usaha itu tetap tidak akan sia-sia. Jadi ku komunikasikan saja apa adanya pada ayah.
“Hm, ya nanti kalau memang ada laki-laki shalih yang meminangmu...mehehe,” tukas ayah terkekeh. Tentu arah pembicaraannya ke arah pernikahan. Ada selip rindu sekaligus perih. Sejujurnya memang aku masih menikmati kesendirian, meski tak memungkiri pula adanya sisi kenormalan. Aku mau saja menikah, tentu tanpa menambah beban bagi suami. Akan tetapi, satu sisi aku takut kehilangan kasih sayang ayahku. Aku terlalu mencintainya. Dilema ku di persimpangan. Aku takut kehilangan cinta kasih tulus ini. Ayahku orang yang paling bisa menerimaku, apapun itu. Aku takut pengganti itu terlalu banyak berharap padaku, sementara aku terbatas. Tapi juga aku harus berbagi untuk saudaraku. Istilahnya aku harus gantian. Gantian dalam menerima kasih sayang ayah.
“Ya Allah, ini syari’at, aku tahu. Ini ibadah, aku juga tahu... tapi ini juga terkait pada hati dan perasaan. Aku juga tak tahu... halaaah, embuhlah!”
Lalu apa salah jika aku bersikap “sak dermo nglakoni”? jika ada biarlah berjalan apa adanya. Jika tiada ya sudahlah tak perlu dipaksa. Mungkinkah itu pola pikir yang salah? Apalagi posisiku sebagai perempuan. Perempuan lebih pas menduduki pos penantian. Nyatanya, memang tidak ada yang berani melewati proses itu (eh, ada ding! Tapi...). ketika tiba giliran menghadap ayahku, mereka mundur teratur. Seolah ayahku adalah momok dan monster terjahat di dunia. Padahal, betapa penyayangnya ayahku, andai mereka mau mengenal lebih dalam. Andai mereka para pemberani...
Meski begitu, aku tidak berminat terlalu payah dalam menggapainya. Setiap kondisi memiliki sisi positif dan negatif. Terbukti, dalam kesendirianku ini, masih banyak yang bisa ku lakukan sekehendakku. Kesempatan berkarya tidak terbebani tanggungan lain. Tapi... lagi lagi aku teringat beban tanggungan ayah. Terbayang sosok ayah yang semakin senja. Rasanya ingin ku bertanya suara hatinya tentangku. Aku yakin, ayah tak akan malu memiliki anak sepertiku, tapi aku penasaran seberapa berat ayah menanggungku?

Hanya tuhan yang tahu...???


&&&&&&&&&&&&&&&&&&&


Ditulis untuk Lomba Suara Perempuan  2013
Continue Reading...

1/29/2013

Karena Aku Bapakmu



Sesosok pria jangkung melangkah santai di trotoar seberang jalan. Aku mengamatinya lekat. Rambutnya sebahu tergerai bebas. Sepilah poni menjuntai lembut diterpa angin, menghalangi pandangannya yang menyebar. Kedua matanya sipit. Hidungnya mancung kekar. Kumisnya menyempul acak tak beraturan. Sebagian terjulur, banyak yang berhamburan.



pic.from FB drawing pencil



Parasnya biasa-biasa saja. Penampilannya pun tak ada yang istimewa. Tubuh kerempengnya mengenakan T-shirt biru yang ditutup jaket kulit hitam. Ret jaket tak berkancing, pun menampakkan gambar tengkorak, menyeringai di bagian dada. Lebih mirip gaya anak alay, dilengkapi celana jins ketat yang mengetatkan.

Setiap petak wajahnya, tak lepas dari bendungan jejak jerawat yang sempat nangkring. Ada pula beberapa sembulan yang belum pecah. Aku berusaha mencari jawab, mana nilai plusnya hingga konon sangat disukai banyak wanita. Polosku mencecar pertanyaan yang menikam batok kepala tanpa henti.


Pria yang tengah ku amati tadi telah berdiri di mukaku. Aku jongkok sambil memilin tusuk gigi yang nangkring disela gigiku. Senja tak menyurutkanku untuk terus mengais rejeki sebagai penjual kopi dan teh panas keliling di terminal.

“Cuacanya cerah ya.”

Tegurnya sok akrab. Sepatu ketsnya menendang kerikil yang menggelandang. Degupku berirama. Aku merespon sewajarnya.

“Sore, Om.”

“Kenalkan namaku Eric.”

Tangannya mengulur tanpa ku pinta. Ku hanya mengangguk pelan, menolak halus. Jengahku terperangkap dalam batin yang mendendam. Arloji yang dia kenakan tak lagi asing bagiku. Itu milik ibuku. Jadi ini pria yang menciptakan neraka di keluargaku.

“Lidya Aminasa.”  Sahutku menyambut

Eric mengernyitkan dahinya. Sorot matanya berbinar terang seakan menemukan hal yang sangat dinantikan.

“Oh, jadi kamu Lidya. Saya sempat membatin, kayaknya pernah liat.”

Aku hanya tersenyum. Aku memaklumi itu. Teringat betapa aku memang secara fisik mirip dengan ibu. Hanya saja, mungkin aku lebih terkesan tomboy.

Tampang seringkali dianggap segalanya. Memang umumnya seperti itu. Padahal itu relatif. Buktinya, apa yang aku saksikan ini. Sosok dihadapanku memang tak lebih dari rata-rata. Bahkan boleh dikata jauh dari kata keren. Tapi apa yang membuatnya begitu silauman memikat banyak wanita. 

Ya, itulah dia.

kemampuannya memperlakukan wanita. dia tahu bagaimana membuat orang lain begitu nyaman dengan kehadirannya. huft!

“Kau jual kopi, saranku ucapkanlah bismillah sebelum memulai aktivitas,” katanya menyarankan dengan prolog yang mengesankan. tuh, kan apa ku bilang. bersahabat sekali kan. Disini aku jadi makin paham sekilas sosoknya.


Aku hanya mengangguk pelan dan sesekali menatap piranti jualanku. Termos yang mulai memudar warnanya dan beberapa kemasan kopi, teh celup dan gula.

“ingat, bagi pecinta kopi, kopi adalah segalanya. Untuk menggaet pelanggan kuncinya ada pada cita rasa kopimu. Pertama, perhatikan kualitas air. Kalau air kran, baiknya kau saring dulu dan perhatikan suhu proses perebusan, idealnya tidak boleh mendidih hingga bergolak.” Urainya tanpa ku pinta.

“diamkan sekira 30 detik usai perebusan. Kalau kopi hitam, gunakan filter atau logam. Pastikan bahwa kopimu tidak pernah masuk kulkas. Suhu ruangan bisa berpengaruh pada kenikmatan cita rasa kopi,” lanjutnya panjang lebar. Sesekali dia mengusap wajahnya yang tirus.

“terakhir, taburi sedikit garam. Sajikan.” Tutupnya mengakhiri sambil tersenyum puas.

Aku termangu sesaat, sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Oom siapa? Mengapa begitu baik padaku?” tanyaku kaku.


Sesaat pria itu terperangkap dalam diam. Mungkin lebih tepat mencari jawab. Bola matanya berputar cepat lalu menatapku lekat.

“Karena aku... bapakmu!”


Aku shock dan dia berlalu.



#___#  





"terkadang orang yang kita benci, justru dari kalangan orang yang seharusnya kita cintai"

(Unknown)




Banyak hal yang mengejutkan dalam hidup ini, tanpa kita sadari itu terjadi akibat dari asumsi yang kita ciptakan. sayangnya, kita lebih senang menciptakan kejutan dari pikiran buruk kita. 


(CamilanoZz)

Continue Reading...

1/28/2013

Jatuh Hati Jambu Biji



&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&


Akhir-akhir ini saya jatuh hati dengan jambu biji. Apalagi ketika diolah menjadi juice. Duh! bikin diri lupa hari. Sangat sederhana pengolahannya menjadi jus, yaitu jambu dipotong beberapa bagian. Kemudian tambahkan  gula (akan semakin nikmat bila ditambah sedikit jeruk nipis) dan diblender. Sekali dijual harganya 4000 pergelas. Kalau hasil olah sendiri mungkin lebih murah lagi. Entahlah, mengapa saya tiba-tiba begitu dibuai kelezatannya.
Belakangan kegemaran saya ini diperhatikan adik-adik bina saya. Ketika sedang asyik menyeleksi naskah mereka, seorang adik tersenyum manis ke arah saya sambil menyerahkan selembar kertas hasil karyanya.
“Buat Master.” Katanya lugas.
Hm, saya pikir itu sekedar sikap pemanisnya yang dia kemas untuk menyerahkan naskahnya saja. Agar naskahnya mendapat prioritas? Ah, entahlah. Saya membalas senyumannya dengan lapang dada dan welas asih. Sebagai penghargaan saya atas usahanya dalam berkontribusi mading sekolah. Seakan dari skap saya mengatakan padanya, bahwa “saya sayang padamu, Nak”.
Seperti naskah-naskah anak lainnya. Saya harus adil dalam berbagi rasa dan penghargaan. Jadi, meskipun dia tampak membesarkan kalimatnya seolah memberi hadiah pada saya “Buat Master”, saya berkewajiban untuk tidak mengutamakannya. Naskahnya datang akhir-akhir, maka antrian pemeriksaannya harus akhir pula. Sesuai artiannya. Semua pasti tahu hal ini dan sepakat kan?
Tanpa sadar, usai saya memeriksa satu dua naskah yang antri duluan, tangan saya meraih lembaran ‘buat master’ tadi. Begitu melihat judulnya saya tertarik. “Ragam Manfaat Safarjal”. Safarjal berasal dari bahasa arab. Artinya (sejenis) jambu biji. Saya pun merenges penasaran. Merasa menemukan hal yang melekat di hati.
Disebutkan suatu riwayat dari Ibnu Majah, dari Thalhah bin Ubaidillah. Saya menghadap Rasulullah saw yang pada saat itu sedang menggenggam buah jambu. Beliau bersabda: “Wahai Thalhah, taruhlah itu dihadapanmu, karena sesungguhnya jambu dapat menambah semangat”.
Ada pula riwayat dari An-Nasa’i, dari Abu Dzar. Saya pernah menghadap pada Rasulullah saw yang sedang berada di tengah-tengah para sahabatnya yang lain. Dan di tangannya tergenggam buah jambu yang dibolak-balik. ketika saya duduk di dekatnya, beliau menyodorkan kepada saya, sembari bersabda: “Wahai Abu Dzar, taruhlah di hadapanmu, karena sesungguhnya buah jambu dapat menguatkan jantung, membuat jiwa menjadi bijak, dan menghilangkan kerikil dalam dada”.
Konon, buah jambu memiliki temperamen dingin dan kering. Dimana hal ini berbeda-beda berdasarkan ragam rasanya. Semuanya dingin dan menahan serta baik untuk lambung. Semua jenis jambu dapat menenangkan bersin dan muntah. Dan pula, melancarkan kencing, memperkuat watak, bermanfaat untuk mengobati peradangan usus, batuk darah, dan kolera. 

*Wah, boleh juga tuh.

Apabila buah jambu ini dikonsumsi sebelum makan, maka dapat menahan diri (aneh??? Menahan apa ya? kwkwkk). Jika dimakan setelahnya maka dapat melembutkan watak dan cepet mengendap. Banyak memakannya akan mengganggu urat syaraf, menimbulkan colic dan meredakan empedu yang timbul di lambung.
Apabila dibakar, maka kekerasannya akan berkurang dan lebih ringan. Jika dilubangi tengahnya dan isinya diambil kemudian diisi dengan madu, lalu dilumuri dengan adonan dan diletakkan pada mata yang sakit, maka sangat baik dan bermanfaat.

saya belum bisa menerima semua itu, tapi yang pernah saya dengar gosipannya, jambu biji mengandung antioksidan. Saya jadi merasa terdongkrak untuk lebih istiqamah (?) mencintai jambu biji ini. Apapun isu dan gosipannya, tampaknya jambu biji ini memang benar-benar sejuk menentramkan. 

So, cobalah untuk mencintainya, agar dingin hati dan jiwa penuh kedamaian.

Halah!




Bagaimanapun juga, ini bisa jadi info juga loh...


Jenis jenis Jambu

  1. Jambu biji delima ciri-ciri buahnya berbentuk bulat dan bermoncong dipangkalnya, walaupun kulitnya agak tebal dan banyak bijinya, tapi dengan dagingnya yang berwarna merah dan rasanya yang manis jenis jambu biji delima ini sangat menarik sekali untuk dinikmati.
  2. Jambu biji manis Bentuk buahnya bulat meruncing ke pangkal, kulit buahnya tipis dan jika matang berwarna kuning muda. Jenis yang ini juga mempunyai biji yang banyak dan dagingnya berwarna putih tetapi rasanya manis dan harum baunya.
  3. Jambu biji Perawas Ciri-cirinya berbentuk bulat lonjong dan buahnya lebih besar dari jenis biasanya, kulitnya agak tebal, bila buahnya matang berwarna kuning, dagingnya merah, bijinya tidak banyak, rasanya agak asam, baunya harum.
  4. Jambu biji Pipit Berbentuk bulat kecil-kecil, kulitnya tipis, bila matang buahnya berwarna kuning dan dagingnya berwarna putih, rasanya manis dan harum baunya.
  5. Jambu biji sukun Berbentuk bulat besar dan kulitnya tebal, bila matang buahnya berwarna kuning, bijinya sedikit bahkan hampir tidak berbiji, tapi rasanya hambar dan harum baunya.
Demikianlah tentang jenis jenis jambu yang serba serbi ketahui, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita tentang jenis jenis jambu, jika sahabat tau tentang jenis jenis jambu yang lain komen ya, biar bisa diupdate lagi. Referensi : http://eemoo-esprit.blogspot.com/2010/10/menelaah-nilai-gizi-jambu-air-water.html



&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&
Continue Reading...

8/26/2012

Roda Waktu


Kenikmatan itu sering diidentikkan dengan rejeki melimpah dan serba enak. Dan itu memang tidak bisa ditolak. Kenyataannya kebahagiaan selalu diharapkan oleh banyak orang. Diharapkan selalu hadir pada kehidupan seseorang, dan menolak kesusahan. Sebab kesusahan dianggap sebagai petaka dan adzab dari ilahi. Hal itu ditegaskan pada surat Al Fajr 15-16 Kebahagiaan datang, tentu kita senang. Kesusahan hadir, tentu kita sedih. Itu sudah menjadi sebuah ketetapan. Wajar. Namun, hakikat dari bahagia dan susah itu ujian. Yang jadi masalah ketika ujian itu dikategorikan antara nikmat atau adzab. 

Continue Reading...

Rindu Ibu (1)

Aku rindu ibu, maka ku bergegas pergi ke rumahnya. lebih tepatnya peninggalannya dulu. disanalah ku injakkan kaki pada ubin yang menyimpan ragam kenangan masa silam. Ada aku, ibu dan adikku. Rumah ibu kini kososng. Tak ada yang menempatinya, selain hanya diriuhkan pipitan burung2 parkit. Sedianya burung-burung itu dibuatkan kandang disana, untuk menjadi investasi kakak, juga memanfaatkan lahan kosong. Aku tergugu bisu. Ibuku sayang... ibuku malang... 

Continue Reading...
 

Sabaqaka Ukasyah Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon

Modified by Abu Hamzah for Ukasyah Habiby