Tampilkan postingan dengan label Celoteh Fakhita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Fakhita. Tampilkan semua postingan

4/27/2013

Mari Bicara Perempuan




@*@*@*@*@*@*@*@*@*@

Bicara soal perempuan, itu hal yang wajar. terutama bagi perempuan itu sendiri. Bisa karena ingin mengenal diri sendiri atau menyelesaikan permasalahan yang tengah dialaminya. Bagi laki-laki pun bicara soal perempuan termasuk hal wajar dan standar. Mereka pun butuh tahu itu, meski terkadang dipandang aneh bahkan tabu. Asal mereka bukan bertujuan untuk menjadi perempuan (kecuali yang tidak normal), hal itu sah-sah saja. Mungkin saja mereka ingin memahami dan mengistimewakan perempuan, terutama ibu, istri atau saudarinya. 

Ya, apapun itu perempuan tetap makhluk Allah yang cukup istimewa nan unik.

keistimewaan perempuan tak kalah dengan laki-laki. Mereka sama berkualitasnya dengan laki-laki. Keistimewaan ini hanya didapat dari Al-Islam. Dan keistimewaan ini pula berupa kepemilikan pos-pos khusus, yang Allah sediakan itu semua tanpa dimiliki laki-laki. Tentu standar persamaan ini dalam kesempatan menggapai budi luhur serta porsi kedudukan yang mulia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya.



1. Perempuan menjadi kunci kesuksesan laki-laki. 

Awal mula manusia dilahirkan tak lepas dari kekuatan dan keteguhan hati seorang ibu, yang itu perempuan. Perempuan yang kuat sekuat cengkraman dinding rahimnya mempertahankan sebuah kehidupan. dengan bekal rasa cinta kasihnya yang besar, dia rela mengorbankan kehidupannya demi calon kehidupan selanjutnya. Lantas, bila ia telah berhasil mempertahankan pintu gerbang kehidupan janin, ia pun menjadi almamater pertama untuk buah hatinya dan menjadi cikal bakal masa depannya.

2. Perempuan begitu kuat mempertahankan hatinya demi orang yang dikasihinya dari pada laki-laki. 

Bila dikatakan rata-rata berat otak laki-laki lebih berat 1,4 kg dari otak perempuan, itu sangat benar dan beralasan. Jauh sebelum penelitian tersebut, Islam telah memaparkan salah satu watak dasar laki-laki adalah akalnya setingkat lebih unggul dibanding perempuan. Hikmah dari itu semua, karena memang porsi laki-laki sebagai pemimpin sudah dipersiapkan oleh Allah. Sementara perempuan lebih menonjol dari sisi perasaan. besarnya perasaan yang Allah karuniakan untuknya itu membuatnya setia dan rela berkorban pada orang yang dicintainya. Besar rasa cintanya bersumber dari watak dasarnya sebagai sosok yang mengedepankan perasaan dibanding akal.

3. Cara pikir yang berliku dan bergelombang

Dari sebab karakter dasar perempuan lebih mengedepankan perasaan, maka model bicara perempuan bertingkat-tingkat dan ragu dalam memaparkan keinginannya. secara teori ilmiah dijelaskan bahwa serabut penghubung antara belahan otak kanan (intuisi) dan otak kiri (logika) lebih sedikit pada perempuan daripada laki-laki. Olehnya, perempuan lebih ekspresif dan mimik muka mudah terbaca sebagai gambaran suasana hatinya. Dan di dalam surat Az-Zukhruf: 18 ditegaskan akan benarnya teori itu. Perempuan selalu berbelit dalam menghadapi permasalahan. Untuk mengarah pada inti, harus melalui berbagai tikungan. *fil khisham ghairu mubin.

4. Perempuan lebih mampu menahan dingin

Perempuan lebih banyak menyimpan lemak dalam tubuhnya. Lemak ini berada dalam lindungan epidermis yang fungsinya seperti jaket kulit. Fungsinya memberikan kehangatan untuk buah hatinya. Lain halnya Laki-laki lebih menang pada ototnya, sehingga mereka unggul pada soal angkat beban. 
Namun, sebagian teori justru berpendapat sebaliknya. Perempuan kurang mampu menahan dingin dikarenakan permukaan kulit lebih besar, sehingga rata-rata perempuan suka ruangan yang hangat.


5. Perempuan lebih cerewet dibanding laki-laki

Hal itu kecenderungan naluri bawaan dari adanya kependekan akal serta menonjolnya perasaan. Perempuan ingin dipahami seutuhnya, karena itu ia memaparkan perasaan kasih sayangnya secara detail. Atau boleh jadi, karena merasa setiap delik perasaannya mengandung arti. Maka seringkali didapati perempuan cerewet, untuk mendeskripsikan apa ang dia rasakan. Perempuan pun menjadi lebih ekspresif. Bila laki-laki lebih menekankan inti, perempuan lika-liku penuturan memiliki inti di setiap incinya.   


6. Perempuan perlu kelembutan sekaligus ketegasan

Perempuan diibaratkan barang pecah belah. Tidak bisa diperlakukan kasar dan keras. sebab kekasaran dan kekerasan itu justru akan menjadi bumerang bagi pelaku kekerasan itu. Tindakan kekasaran dan kekerasan itu akan membuatnya terluka, dan luka itu meninggalkan bekas yang mendendam. Perempuan yang menyimpan luka, biasanya dia akan tertempa lebih tega, sadis dan kejam dari perlakuan yang didapatnya. kelembutannya akan menjadi semacam ular berbisa yang akan menggelincirkan seseorang pada kehancuran. 
Sebaliknya, perlakuan lemah lembut padanya, jangan sampai berlebihan. akibatnya, ia akan melonjak dan mengabaikan nilai-nilai kultural dan estetika. Ketegasan tidak bisa disamakan dengan kekerasan atau kekasaran. Tegas itu tetap bisa lembut, tapi kewibawaan mampu meluluhkan dan menundukkannya. Maka jangan mudah menyakiti perempuan, atau jika terlanjur menyakitinya, segeralah menyadarkannya untuk bisa memaafkan.

7. Perempuan Suka berbisik membisik dan dibisik

Dalam sejarah Nabi Yusuf alaihissalam, dikisahkan betapa perempuan-perempuan identik dengan gosip. Dibalik kelemahlembutannya, tersimpan senjata tajam, yaitu mulut pedas khas dunia intertainment. Pada dasarnya warning ketajaman lidah berlaku umum untuk laki dan perempuan. Penekanannya lebih ke arah perempuan, karena perempuan yang lebih berpotensi dan mudah untuk mengumbar informasi. Perempuan jarang yang mampu bertahan jika ada sesuatu yang dipendam. Olehnya, perempuan memiliki kemampuan mendeskripsikan perasaannya secara detail, akan tetapi rentan pula penyalahgunaan kelebihan ini. Perempuan lebih suka berkasak-kusuk. Indera pendengarannya rata-rata lebih tajam dari laki-laki. Hal itu membuatnya bisa menggabungkan beberapa aktivitas dalam satu waktu. perempuan bisa menerima telepon, sambil menyuapi makan anak dan menonton televisi. Namun, dia tidak mampu sefokus laki-laki.

8. Suka hal-hal sederhana tapi bermakna

Tak perlu sesuatu hal yang mahal nan mewah. Cukup sesuatu sederhana tapi memberikan kesan mendalam baginya.

9. mm... kasih tau G eaahh

(Yang ke sembilan ini masih perlu banyak pertimbangan, karena rahasia masa depan!  :P)


10. Boleh Nambahin, asal yang relevan nan logis




@*@*@*@*@*@*@*@*@






Continue Reading...

4/22/2013

Mengusik Kartini



Kepopuleran kartini tidak bisa dinafikan dan ditepis begitu saja. Sebagai anak manusia yang hidup di jaman serba latah begini, mau tak mau harus mau menghadapi realita kelatahan di jaman ini.  

Kartini yang dijadikan ikon kepahlawanan kaum wanita, seperti apa sih sosoknya? Hmm, Apa dia seperti ibu-ibu rumah tangga yang santun? perempuan yang memperhatikan suaminya? memperjuangkan pendidikan anak-anaknya? atau bagaimana? 
Kebetulan baru saja menyelesaikan setrika baju-baju saya, menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya, mengapa saya tidak dikartinikan? ini merupakan perjuangan berat seorang wanita kan? perjuangan melawan penat dan panas... secara setrika itu panas kan? (>_<)


menyetrika baju kartini?

Btw, kartini itu wanita pribumi jawa, asli rembang-jateng. Terlahir dari keluarga priyayi, yang kebetulan mendapat karunia dan kelebihan langka di banding wanita pribumi pada umumnya. salah satunya adalah intelektualitas dan pendidikan. (May be YES, may be NO). Kartini sempat mengenyam pendidikan lebih dari anak seusianya. Sayang, bukannya bersyukur tapi salah makin parah melampaui batas tutorial sebagai hamba. 

Bila budaya wanita pribumi pada saat itu sudah menginjak umur remaja, dia harus dipingit, begitu juga kartini. Dunia pingit wanita masa itu dihiasi tembok gagah melindungi. budaya dan tatanan memang sangat menjaga adat ketimuran, dalam memperlakukan wanita secara istimewa. Sayangnya memang, kegagahan tembok yang awalnya bersifat melindungi, dengan berjalannya waktu, tradisi itu malah jadi ikatan yang membelenggu. Dan tradisi ketimuran ini jika ada di tangan lelaki berpendidikan terbatas atau tak bijak, bisa jadi senjata untuk memperlakukan wanita seenaknya. (Apa benar begitu? may be yes may be No)

Dalam masyarakat fanatik itu budaya atau tradisi, pekerjaan dan tanggung jawab wanita terbatas di area tertentu. Sebagai akibat kefanatikan ini, banyak masyarakat masih mendiskriminasikan wanita. Pandangan terhadap wanita yang menyesatkan telah terungkap dengan sendirinya dalam berbagai cara. Terutama di masa lalu dan jauh dari nilai Islam, wanita mengalami perlakuan biadab. Misalnya, Allah mengungkapkan bahwa wanita dianggap sangat tidak berarti di beberapa masyarakat di mana ayah mereka mengubur mereka hidup-hidup segera setelah mereka lahir.

Tak ayal di masa kartini pun demikian, tradisi yang sudah membudaya itu bagi sebagian kalangan teramat sulit. Sebab, antara wanita membutuhkan pendidikan dan wanita jika terbiar atau terlalu lama diluar, itu jadi membahayakan. Olehnya para wanita dijaga sedemikian rupa sehingga tidak sembarangan keluar rumah. Tapi, di tangan sebagian lelaki otoriter, budaya ini menjadi hal yang berlebihan. Atau terkadang tidak memiliki perasaan kepada kaum perempuan, hingga terkesan lelaki berlaku seenaknya. Juga memanfaatkan kelakiannya sang otoriter. (*mumet)

Taruhlah contoh, seperti yang dilakukan ayah kartini. Ayah kartini memingit anak gadisnya, tapi tidak mengabaikan masa depan pendidikannya. maka konsekwensinya sang ayah harus mengimbangi dengan perhatian sesuai. perhatian itu berupa pendidikan yang memadai pula. tidak hanya sumur, dapur, kasur, pupur, akan tetapi juga pitutur lan adi luhur. Ini ada beda tipis yang musti harus dipahami, antara budaya mengekang dan budaya menjaga sekaligus mengembangkan. Terutama kalangan pria yang menganggap dirinya pengayom sejati.

Lalu, apa sih sebetulnya yang dilakukan kartini ini?
Konon nih, kartini sering curhat ke teman-temannya yang asal belanda. salah satunya rosa abendanon dan Estella "stella" Zeehandelaar. Mereka termasuk kalangan yahudi aktivis feminis-sosialis. Dengan mengutip sebuah pendeskripsian Pramoedya A.T kita tahu bagaimana sosok sahabat kartini itu.

”Estella Zeehandelaar adalah seorang gadis Yahudi Belanda dengan pandangan hidup sosialis yang berapi-api.Ia tidak menyetujui kalau Kartini masuk ke dalam dunia keagamaan. Stella mempengaruhi Kartini dalam pandangan hidup, bahwa kebajikan bukanlah barang monopoli kaum agama, karena orang pun –dan terutama sekali—dapat lakukan kebajikan karena perasaan tanggungjawab kepada sesama, karena nuraninya sendiri.” (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Lentera Dipantara, 2010, Cet.Kelima, hal. 212)
Dan satu hal yang musti digarisbawahi, bahwa "apa dan siapa kita" dilihat teman dan sahabat kita!  teman dan sahabat adalah pantulan dari cara pikir seseorang. keberadaan teman dan sahabat itu saling mempengaruhi satu sama lain. jika tak saling cocok, tak mungkin ada keintiman disana.

So, siapa orang-orang yang paling intens dengan sosok kartini ini? apa perannya untuk bangsa dan perjuangannya, sehingga pantas untuk dijadikan ikon seorang pahlawan? mengingat pada masa itu Indonesia masih dalam kondisi tegang terjajah. Indonesia masih dalam kungkungan penjajah hindia-belanda. jadi mau tak mau perjuangan saat itu adalah pertumpahan darah. Darah macam mana yang ditumpahkan oleh sang kartini ini? Apa memakai istilah orang jaman sekarang, berdiplomasi atau "adat ketimuran yang anti kekerasan"? entahlah, dalam sejarah sepanjang yang saya tahu, pertumpahan darah bagi kartini adalah proses persalinan. Selebihnya adalah kisah curhat dan penggunggatan, yang dikemas indah dalih pendidikan dan perubahan. Hal itu sebagaimana diulas... wikipedia


Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki menuntut ilmu dan belajar. 
kartini ingin wanita pribumi jawa ini menjadi seperti wanita-wanita eropa yang dinilai "maju". Kartini  lantang menyuarakan emansipasi yang pemaknaannya sungguh melampaui batas-batas norma agama. Kalau sudah bicara agama, sebagai umat beragama; "Apa layak agama digugat, apdahal itu tatanan?"


"Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah."
pada kalimat yang dicetak tebal itu, ada sedikit pernyataan yang aneh, bukan? 
Selama berjam-jam saya berusaha baik sangka dan merefresh apa yang saya baca. Jika dulu ditanamkan pemahaman sebuah edaran bahwa kata mutiara khas nan populer seorang kartini adalah "habis gelap terbitlah terang", merupakan intisari dari ayat "minadh dhulumati ilannur", maka sinkronkah kata mutiara dengan nukilan ayat, sementara kartini sendiri menolak kekuatan agamanya sendiri? (eh, kartini muslimah bukan sih?)

Seorang muslim itu simple, yang utama adalah maslah aqidah. sebab aqidah itu asas segala amalan seorang muslim. Jika aqidahnya saja sudah diragukan, maka kelanjutannya itu tak bakal jauh dari dasarnya. Terbukti pula, ide-ide yang dicetuskan pun tak ubahnya ide kaki tangan para penjajah. Pantas saja, jika kini perayaan hari kartini adalah kalangan mereka yang memiliki kecenderungan terhadap loyalitas penjajah. 

Coba, pernahkah kita dapati orang yang merayakan hari kartini muncul dari muslimah kaffah terhadap diennya? tentu jawabnya TIDAK! seorang muslimah kaffah tidak akan mudah mengekor kaum penjilat dan kalangan tak jelas pengamalan agamanya. seorang muslimah sudah cukup dan percaya diri atas ajaran pemeliharaNya.

Hm, sebetulnya banyak hal yang perlu dikritisi dari sosok seorang kartini ini, meski bagaimana pun tanpa mengurangi rasa hormat sebagai pribumi, saya tidak semata-mata mengkritisinya. Namun, saya hanya meragukan keberadaannya sebagai sosok pahlawan Indonesia yang diprimadonakan, sementara yang lebih banyak berjuang darinya, mengapa tidak diagungkan pula? 

(mehehe...bingung kan? apalagi saya...) 

Apalagi, realitas terkini, yang kita saksikan secara kasat mata, hakikat perayaan hari kartini identik dengan penampilan wanita-wanita kenes, berlenggak-lenggok kemayu, idal-idul rambut bersanggul, tak malu pula kemben sekedar menyelimuti pinggul, dan segala aksesoris tak jelas lainnya. semua itu diupayakan hanya untuk berbangga-bangga. kontes kecantikan, hura-hura dan jauh pertimbangan hakikat manfaat dan mudharatnya.

Atau kalaupun ada acara-acara yang lebih "berisi", mungkin dianggap sedikit bertaji adalah menyorot wanita-wanita populer dari kalangan artis, dinilai sebagai sosok kuat dan energik. alih-alih keteladanan yang difokuskan, malah kebobrokan moral yang ditanamkan. 

Laa Hawla wa laa quwwata illa billah. 

Ini real adanya. Dan itu dapat disaksikan dengan mudah di banyak stasiun televisi nasional secara live. Begitukah sosok kartini yang nyata? Jika benar, betapa tragisnya pahlawan nasional kita ini!!!

Kalau tidak begitu... Ujung-ujungnya berdalih: "Ambil baiknya saja!"

Whatever, bersyukurlah pada apa yang Allah karuniakan. Sebagai muslimah, tetaplah percaya diri dan jangan mudah latah kepada suara mayoritas. Kasihan juga, Banyak muslimah yang dibodohi soal ini. Mereka lupa, bahwa diri mereka bisa lebih keren dan berkharisma dibanding sosok kartini yang masih kabur tentang dirinya sendiri. Masih meragukan integritas pribadinya sendiri. Sementara, Islam telah menyediakan banyak teladan muslimah yang lebih tsiqah. integritasnya tidak perlu diragukan lagi dan insyaAllah lebih menginspirasi dan mendidik. Jujur mencerdaskan!

So, Jika hari ini kita sudah banyak didoktrin tentang sosok kontroversial, maka sebagai penawarnya, kita juga harus mendoktrin diri dengan mempelajari sosok teladan tokoh muslimah unggulan. Dan teladan unggulan utama itu ada pada dirimu sendiri.

Be your Self, Wahai Muslimah sejati!





ISLAM CUKUP SEMPURNA UNTUK MENYEMPURNAKANMU


Continue Reading...

4/09/2013

Periksa Wudhu'mu Sebelum Shalatmu!


&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&


Pada suatu kesempatan setiba waktu shalat, dan posisi masih di jalan, aku mampir di suatu masjid untuk memenuhi panggilan ilahi. Masjid yang ku kunjungi merupakan masjid besar yang begitu indah. Arsitekturnya mirip mahakarya para arsitek timur tengah. Mungkin pula masjid-masjid di timur tengah sana menjadi referensi mereka. Gaya ukiran kaligrafi menghiasi tiap dinding lebarnya, menciptakan khas arabian nan bernuansa masjid nabawi. Setiap pancangan tiangnya mencapai 5 meter, menjulang dibalut hiasan tulisan arab terukir. Nyaris semua dipenuhi kaligrafi. Sungguh indah dan megah. 
Dan terpenting nilai suatu masjid adalah standar kebersihan kamar mandinya. Jika kamar mandinya bersih, tentu masjid itu bersih dan layak jual. Ya, layak kompetisi jual beli pada Allah Ta’ala. Kamar mandi bersih, rapi serta nyaman, karena fasilitasnya sesuai standar wanita muslimah yang memperhatikan kebersihan dan keamanan auratnya.
Saya suka dan bahagia mendapati masjid seperti itu. selalu yang terbetik di benak saya acap kali mengunjungi masjid yang nyaman, adalah sepanjat do’a terindah untuk penghuni dan pemakmur masjidnya, terutama ta’mir masjidnya itu.
“Semoga amalannya ikhlash karena Allah dan istiqamah selalu hingga akhir hayatnya.”
Aamiin. hatinya pasti ganteng! ^_^
Namun, kali ini saya mulai ditegur agar tidak mudah berbangga dengan segala keindahan dan kemegahan suatu kemasan. Bukan hendak meragukan ta’mir masjidnya, akan tetapi terkait rasa keprihatinan terhadap para pemilik masjid ini. Jika dikatakan bahwa masjid adalah milik umat Islam, maka yang hadir disana adalah umat Islam, terutama yang hendak bermadu kasih, bercengkrama, berkeluh kesah, dan menghiba pada pemeliharanya.
Tentu umat Islam yang memeluk agama sesuai Islam itu sendiri. Bukan orang non-Islam yang melaksanakan agama Islam. Bukan pula, Orang Islam yang menjalani ajaran Kristen.
Memangnya ada apa sih?
Begini saudara,
Aku mendapati seorang muslimah, jilbabnya lebar. Sebuah aksesoris dan identitas bahwa mau tak mau orang akan menilainya sebagai muslimah taat. Dan juga banyak mengenal agamanya. Tentu mau tak mau saya pun menilai begitu. Dia pasti orang keren yang paham akan agamanya. Tak kalahnya pula dia manis. Duh, saya aja berdesir kagum dibuatnya.
Saat itu dia hendak berwudhu’. Aku persilakan dia mendahuluiku. Sementara aku mengantri kamar mandi, tanpa sengaja aku memperhatikan segala gerakan gadis itu. mulai dari cara dia mengawali wudhu’, cuci tangan, berkumur-kumur hingga membasuh mukanya. Namun aku sedikit bingung ketika dia tiba-tiba menduliti ubun-ubunnya. Ku pikir dia sekedar membersihkan atau merapikan ujung rambutnya. Akan tetapi, lagi-lagi itu dilakukan tiga kali, bahkan mungkin lebih. Setelah itu, dia mencuci kedua tangannya berulang kali tanpa mempedulikan ujung sikunya. Yang dia lakukan adalah mencuci tangannya sambil menggosok-gosokkan saja. Lebih tepatnya cukup sebatas lengan tangannya saja.



Setelah itu membasuh muka entah berapa kali. Belum selesai ku terkaget-kaget seperti itu, tiba-tiba dia mengucurkan sedikit air ke arah daun telinganya berulang kali. 

Alamak! Dia bermaksud membasuh telinga?

Aku terpana dibuatnya. Tak habis pikir dengan hal ini. Usai itu sebuah adegan untuk mengakhiri serangkaian ritual berbasah-basah ria “wudhu” tadi, adalah mencuci kaki. Lebih mirip gaya petani yang mencuci kaki karena terkena belepotan tanah sawah. 
Aku melongo tak mampu berkata. Apakah dia tidak tahu tata cara berwudhu yang baik dan benar?

Ah, ya sudahlah! aku jadi masygul sendiri.

Saat itu aku hanya bisa termangu dan prihatin. Bagaimana dengan shalatnya? Bukankah wudhu seseorang itu menjadi penentu pula bagi shalat seseorang? Tiba-tiba aku merasa nelangsa sendiri. Teringat kisah yang dialami ayahku, ketika pernah suatu kali mengajar remaja setara usia SLTA. Dari sekitar 200-an murid, hanya 10 yang bisa wudhu dengan baik dan benar. Dari 10 menyusut menjadi 6 anak yang bisa membaca bacaan shalat dengan baik dan benar. Dan hanya 2 anak yang bisa menjalani uji shalat secara baik dan benar secara sempurna.
Astaghfirullah!
Yang berjilbab lebar begini saja belum bisa memahami seutuhnya tentang nilai-nilai berwudhu’, bagaimana dengan yang tidak berminat dengan ajaran Islam itu sendiri? Haduh, aku jadi merinding sendiri.
Nah sekarang, bagaimana sikapku yang baik dan benar ketika mendapati kasus kecil seperti gadis muslimah manis tadi? Mau menegur, repotnya dibilang menggurui. Tidak menegur, tekanan batin dan moral sungguh menghantui. Aku hanya bisa meratapi kelemahanku ini. Sebuah realita bangsa yang lebih bangga dengan pengetahuannya tentang teknologi tapi tidak paham nilai-nilai ajaran agamanya sendiri. Lebih bangga mengenal fesbuk, tweet, dan sebangsanya dibanding kekuatan agamanya. Lebih bangga kenal artis daripada wudhu’ yang jadi kebutuhannya sendiri. Malah terkadang latah akan bunyi-bunyi suara mayoritas, tapi tak tahu apa hakikat bunyian itu.

Seandainya kamu jadi aku, apa tindakan bijak yang sebaiknya akan kamu lakukan, saudara?

&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&

Continue Reading...

3/08/2013

APA DIBALIK HIJABER, JILBABER & KHIMARER ((","))



Serupa tapi tak sama. Mungkin itu kondisi tiga kata berikut; Hijab, jilbab dan khimar. Tak disangka pasti deh, banyak dari kita yang masih kabur memahaminya. Sejatinya ketiga istilah itu beda makna loh. Bahkan Syaikh Al-Albani mengungkapkan banyak pula dari kalangan asatidz yang belum bisa membedakan secara terperinci. Tapi tak masalah, yang penting bagi muslimah tidak boleh buta soal ini. Bukankah itu sandang terdekatnya dalam segala aktivitas maupun gaya hidupnya.

AL-HIJAB

Kata Abu Syuqqah: “sudah jadi tradisi umat, khususnya masyarakat muslim, menganggap pakaian syar’i itu disebut “Hijab”. Sehingga wanita yang mengenakannya mereka sebut hijaber. Padahal hijab itu sesuatu yang menghalangi antara dua pihak, sehingga satu sama lain itu tidak saling melihat. Demikian pula makna hijab pada surat Al-Ahzab: 53
“Dan bila kalian meminta suatu barang dari mereka (ummahatul mu’minin) maka mintalah dari balik tabir.”
Al-Hijab di atas jelas bermakna tabir/pembatas antara majlis laki-laki dan perempuan, baik berujud tirai, tembok, papan, atau sekat. Artinya jika sahabat Rasul saw non mahrom berbicara dengan istri-istri nabi saw, maka harus ada pembatas diantara mereka. So, para lelaki ajnabi itu tidak berkomunikasi dengan ummahatul mu’min secara langsung. Sebagaimana banyak diulas sejarah, bahwa para istri nabi saw tidak boleh keluar jika tak ada keperluan mendesak. Kalaupun keluar, mereka harus menggunakan penutup wajah. Fungsinya itu sebagai pengganti tabir. Olehnya, tabir disini bisa berbentuk dua macam: tabir yang dipasang bisa beruba kain kelambu atau papan, dsb. Yang kedua, tabir yang ditutupkan diwajah. Bisa cadar, celemek, sapu tangan, gombal atau buku mungkin.

Hal itu diperkuat dengan adanya bunyi ayat lanjutan: “cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka”. Nash itu menunjukkan bahwa bertanya di balik tabir itu lebih aman dan sebagai aksi antisipasi dari berbagai penyakit hati. (terlalu cantik kali yak, mpe melongo).

Nah, seandainya yang dimaksud Al-Hijab itu kain yang menutup seluruh tubuh wanita dengan jilbab, maka jadinya hanya berfungsi menghalangi laki-laki memandang perempuan, dan tidak menghalangi wanita memandang lelaki. Padahal pada ayat tersebut jelas ada hubungan timbal balik disana.


Ada juga nih, dalil lain dari sejarah resepsi Nabi Muhammad saw dengan Zainab binti Jahsyi. Para sahabat diundang. Pada saat resepsi sudah selesai, para tamu beranjak pulang. Akan tetapi ada beberapa sahabat masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul tak pasti. Rasulullah saw merasa rikuh untuk mengusir mereka, tapi tetap merasa terganggu. Diusir, tak enak. Dibiarkan, tak peka sekitar. Beliau hanya mondar mandir dan keluar masuk tak jelas. Zainab binti jahsyi sendiri sudah mulai tak nyaman, dia hanya memalingkan wajahnya ke arah dinding saja.

Kemudian Allah menurunkan ayat hijab. Saat itupun rasulullah saw segera mengeraikan tirai pemisah antara zainab dengan para tamu. Para tamu pun mulai tak nyaman dan membaca situasi untuk sadar diri. mereka pun bangkit, mohon pamit. (Uh, nggak dari tadih!)

Dengan demikian, jika hijab berarti menutup seluruh tubuh, mengapa zainab harus memalingkan wajah segala? Jika wajahnya tersingkap tanpa cadar, tentu rasulullah saw menyuruh untuk menutupinya tanpa repot mengeraikan tirai kan?
Hmm, asal tahu aja ya, ayat hijab itu wajib berlaku untuk istri-istri rasulullah saw. meski hanya diwajibkan untuk mereka semata, tak ada ruginya jika itu diteladani muslimah pada umumnya.


AL-KHIMAR

Orang indonesia mengistilahkannya kerudung. Ayat tentang khimar ini ada pada surat An-Nur: 31
“Dan katakan pada mu’minat,... hendaknya mereka menjuraikan kerudung-kerudung mereka di atas dada mereka.”



Sebelum ayat ini turun, para perempuan di zaman itu pada umumnya menjuraikan kerudung mereka ke arah belakang (punggung). Sehingga dada, leher, jalinan rambut dan daun telinga mereka tampak vulgar begitu saja. Bahkan mereka juga terbiasa mengenakan pakaian dengan belahan dada rendah. Hal itu disebutkan dalam kitab ibnu katsir, fenomena seperti itu membuat Asma’ binti Martsad merasa risih, padahal dia sendiri seorang wanita.

“Buruk amat pemandangan ini,” keluhnya suatu kali, saat perkumpulan ibu-ibu PKK (hehe...) di kelurahan bani Tsaqifah. (mang udah ada kelurahan yak?).

Nah, akhirnya turun ayat ini yang mengulas segenap muslimat (baik yang merdeka maupun budak) untuk menggeraikan kerudung mereka ke arah depan.
Artinya: BATAS MINIMAL PANJANG KERUDUNG ITU TERJURAI HINGGA MENUTUPI DADA. TAK BOLEH DIKURANGI, KALAU DITAMBAH BOLEH


AL-JILBAB

Istilah ini tak asing buat masyarakat kita, khususnya Indonesia. Sekalipun rata-rata muslimat masyarakat kita tak mengenakannya, tapi begitu kata itu disebut, semua pasti tahu dan paham apa itu jilbab. Populer sangat!
Namun, perspektif mereka dengan Al-Qur;an dan sunnah boleh dibilang kurang pas alias berbeda. (surat Al Ahzab: 59)
Jilbab merupakan pakaian yang dikenakan oleh wanita muslimah di atas pakaian biasa dan kerudung. Jadi ukuran jilbab itu lebih besar dan lebar dari kerudung. Jilbab dikenakan ketika keluar rumah, sedang khimar dikenakan di rumah, baik ketika bertemu dengan lelaki ajanib atau tidak. Hal itu terjadi di kalangan muslimat era rasulullah saw. (Ah, yang bener?!)
1.    Dari Suba’iyah Al Aslamiyyah: ...ketika aku sudah bersuci dari nifas aku berhias untuk para peminang, maka Abu Sanabil datang menemuiku untuk menegurku. “Tampaknya kamu bersolek supaya ada yang tertarik padamu, lalu meminangmu ya? Demi Allah, itu nggak boleh, kecuali kalau sudah melewati masa 4 bulan 10 hari lohh...” (emang khuruj? :p). Mendengar itu aku pun bergegas merangkapkan pakaianku dengan jilbab, lalu keluar menemui rasulullah saw [sebagaimana diriwayatkan imam Bukhary-kitab Maghazy dam Muslim Kitab thalaq].
2.    Dari Fathimah binti Qais: Suamiku, Abu Amr bepergian jauh, lalu dia mengutus iyash bin Abi Rabi’ah untuk mengabariku bahwa ia menthalaqku, seraya mengirim 5 sha’ kurma dan gandum sebagai tunjangan. Lalu aku menanyakan padanya “Apa tidak ada nafkah selain ini? kan aku nggak melewati masa iddah di rumahnya?” aku pun dijawab: tidak. Lalu aku ikatkan pakaianku dan keluar menemui rasulullah saw. [imam Muslim-Kitab thalaq]
Dari 2 riwayat itu minimal kita tahu sekarang, subai’ah mengenakan pakaian penutup aurat pada saat menemui Abu Sanabil di rumahnya. Kemudian ketika menemui rasulullah saw, dia merangkapkan pakaiannya dengan jilbab. Hal itu juga terjadi pada fathimah binti qais, ketika bertemu dengan iyash, dia mengenakan pakaian biasa dan merangkapnya ketika keluar dari rumah.

Lalu bagaimana prakteknya sekarang ini, apakah mengenakan jilbab itu tetap diwajibkan?
Hm, melihat latar belakang terjadinya adat seperti itu, adalah pada zaman rasul saw, rangkap khimar dan jilbab berfungsi untuk membedakan antara wanita kalangan budak dan orang merdeka. Sebab, bagi lelaki hidung belang, keisengan mengganggu wanita tak bisa dihindari. Sejak zaman baheula. Dengan adanya perbedaan itu sebagai antisipasi agar tidak digodain atau disuitin.

Kalau di zaman seperti ini, tidak berlaku lagi perbudakan. Memang. Akan tetapi hasil keteladanan adalah tetap dianjurkan. Bukan lagi hal yang wajib.

So, selagi syarat-syarat menutup aurat sudah sesuai syari’at, tak mengapa tanpa merangkap pula. Asal tidak transparan saja.

Continue Reading...

2/06/2013

Perempuan Berkelambu Senja


&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

"BERCERMINLAH SEBELUM CERMIN ITU RETAK BERKEPING"


Mobil berhenti di muka masjid. Ayah, ibu dan saudara-saudaraku turun untuk shalat. Sementara aku duduk di jok belakang, memperhatikan mereka. Aku tidak shalat jadi tidak turun ke masjid. Begitu mereka semua sudah turun, pintu mobil ditutup.
JdeeR!
Senyap dan sayup. Suara benginging kesenyapan terkadang melintas di pendengaran, lalu hilang. Aku tak melompong dalam diam. Belum pasti enaknya apa yang aku lakukan?
Dari balik kaca mobil, tampak lalu lalang orang yang hendak mengikuti jama’ah shalat di masjid itu. Ada yang tenang, ada pula yang setengah tergopoh bahkan lari. Ragam tingkah mereka, meski satu pikiran, yaitu antusiasme shalat berjama’ah. Terasa indah. Kebetulan masjid yang aku dan keluarga singgahi itu ada kolam ikannya. Kolam itu terletak di muka teras masjid, halaman depan. Adikku ‘setengah’ bungsu duduk manis memperhatikan panaroma eksotis kolam buatan itu.
Jilbab pinknya berkibar lebar dipermainkan angin. Wajah imutnya menempa tatapan unik, disela hiasan bibir mungilnya yang merah delima. Sesekali pipi chubbynya bergerak lembut, bak detak ubur-ubur. Itu karena bersih dan terang yang terpancar dari kulitnya. Tubuh kecil khas gadis mungil duduk menyempil di ujung kolam. Kini, dia jelang 1 smp. Mulai beranjak remaja. Padahal rasanya baru saja kemarin aku menimangnya sebagai bayi, mengejarnya dalam bermain, dan berantem memperebutkan susu bubuk yang dijadikan bedak.
Ah adikku...

Hei, adikku berapa umurnya sekarang? Dia anak millenium. Berjarak 14 th denganku. Sejenak ku tersentak dengan umurku sendiri. Menilik masa silamku berawal terlahir di dunia ini. Kini ku tak muda lagi. Ternyata aku mulai menua. Terbengong aku pada diriku sendiri. Ya Allah, diusiaku ini ayah masih sanggup bersabar menanggungku. Aku terlalu kekanak-kanakan. Rasanya aku baru menginjak umur 20 tahun saja. Tak ada istimewanya. Aku masih suka melompat-lompat, bercekikik ria, lari sana lari sini, melempar apa saja yang ingin ku lempar, dan tak terkecuali ndilati aspal.
Aku tak habis pikir, betapa besar ni’mat Allah berupa ayahku ini. Tanggungan sebagai kepala keluarga saja, jika dihitung-hitung tak kuat rasanya. Apalagi sebagai seorang lelaki. Tanggungjawab memimpin anggota keluarganya yang perempuan. Tidak hanya satu dua pula. 10 perempuan ada di pundaknya. Belum lagi ragam sifat yang musti ditelateni. Tiba-tiba saja, aku menangis... tak tega
Aku menyadari betapa aku mencintainya dengan segala keegoisan, dan entahlah dengan keikhlasan. Aku merutuki diriku, benar-benar memalukan. Beberapa waktu lalu, sebelum agenda safar ke Lamongan, aku sampaikan pada ayah bahwa aku sangat membutuhkan pendamping safar. Satu persatu ayah menanyakan saudara lakiku. Ku jawab apa adanya, kendala kesibukan dan agenda masing-masing. Aku bermaksud mungkin ayah akan memberikan solusi dengan menunjuk kakakku yang lain.
“Ya, bagaimana lagi ya,” kata ayah memecah keheningan diantara kami. ujarnya lirih tanpa solusi harapan.
Aku sendiri tak mau pula memaksa mereka menyanggupi, tapi aku hanya mengupayakan saja. Toh usaha itu tetap tidak akan sia-sia. Jadi ku komunikasikan saja apa adanya pada ayah.
“Hm, ya nanti kalau memang ada laki-laki shalih yang meminangmu...mehehe,” tukas ayah terkekeh. Tentu arah pembicaraannya ke arah pernikahan. Ada selip rindu sekaligus perih. Sejujurnya memang aku masih menikmati kesendirian, meski tak memungkiri pula adanya sisi kenormalan. Aku mau saja menikah, tentu tanpa menambah beban bagi suami. Akan tetapi, satu sisi aku takut kehilangan kasih sayang ayahku. Aku terlalu mencintainya. Dilema ku di persimpangan. Aku takut kehilangan cinta kasih tulus ini. Ayahku orang yang paling bisa menerimaku, apapun itu. Aku takut pengganti itu terlalu banyak berharap padaku, sementara aku terbatas. Tapi juga aku harus berbagi untuk saudaraku. Istilahnya aku harus gantian. Gantian dalam menerima kasih sayang ayah.
“Ya Allah, ini syari’at, aku tahu. Ini ibadah, aku juga tahu... tapi ini juga terkait pada hati dan perasaan. Aku juga tak tahu... halaaah, embuhlah!”
Lalu apa salah jika aku bersikap “sak dermo nglakoni”? jika ada biarlah berjalan apa adanya. Jika tiada ya sudahlah tak perlu dipaksa. Mungkinkah itu pola pikir yang salah? Apalagi posisiku sebagai perempuan. Perempuan lebih pas menduduki pos penantian. Nyatanya, memang tidak ada yang berani melewati proses itu (eh, ada ding! Tapi...). ketika tiba giliran menghadap ayahku, mereka mundur teratur. Seolah ayahku adalah momok dan monster terjahat di dunia. Padahal, betapa penyayangnya ayahku, andai mereka mau mengenal lebih dalam. Andai mereka para pemberani...
Meski begitu, aku tidak berminat terlalu payah dalam menggapainya. Setiap kondisi memiliki sisi positif dan negatif. Terbukti, dalam kesendirianku ini, masih banyak yang bisa ku lakukan sekehendakku. Kesempatan berkarya tidak terbebani tanggungan lain. Tapi... lagi lagi aku teringat beban tanggungan ayah. Terbayang sosok ayah yang semakin senja. Rasanya ingin ku bertanya suara hatinya tentangku. Aku yakin, ayah tak akan malu memiliki anak sepertiku, tapi aku penasaran seberapa berat ayah menanggungku?

Hanya tuhan yang tahu...???


&&&&&&&&&&&&&&&&&&&


Ditulis untuk Lomba Suara Perempuan  2013
Continue Reading...

12/26/2010

ISTERI itu ibarat TV, dan,,,
SELINGKUHAN itu ibarat HP...

Di rumah nonton TV,
jalan-jalan bawa HP gak pernah lupa...

Tidak ada uang, nonton TV...
Banyak uang cari HP baru...

TV gak butuh pengeluaran...
Tapi HP kalo gak diisi pulsa ya gak bisa dipake. :D

TV bentuknya besar, berat diangkat dan tua dikit...
Tapi HP biasanya imut, desain bagus dan enak dibawa ke mana-mana

Biaya operasional TV murah...
Tapi HP mahal banget,,

TV gak bisa disembunyikan...
HP kan bisa...

Acara TV bisa bosan...
Tapi HP gak, kan pinginnya dipencet-pencet terus...

Nonton TV biasanya dari satu sisi...
Tapi hp bisa dibolak-balik 360 derajat,,,

Tapi awasssss....!!!!!!!

HP jangan ditaro di dekat TV
Radiasi tinggi!!! ....:):)



Maaf....hanya selingan saja...
Tapi benarkah istri ibarat TV dan selingkuhan ibarat HP? Tidak bisakah TV berinovasi sehingga mengalahkan HP?

Tulisan ini sempat saya share ke beberapa teman. Dan beberapa orang memberikan komentar yang beragam. Ada yang mengatakan,"Langganan TV kabel dong supaya gak bosen!"
Ada juga yang mengatakan,"Kan sekarang juga udah ada TV mobile yang bisa dibawa kemana-mana. Kecil dan desainnya juga menarik."
Ada juga yang berkomentar,"Ah...HP saya mah jadul, kadang diisi pulsa kadang ga. Dan paling juga cuma dipake buat sms dan nelpon doang."

Yah...apa pun itu, marilah kita terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Semakin baik dan semakin sholeh.
Teruslah bermanfaat bagi orang-orang di sekeliling kita. Berkreasi dan berinovasilah semaksimal kita bisa, karena Allah tak pernah menciptakan sesuatu itu sia-sia.
Syukuri anugerah yang diberikanNya dengan memanfaatkannya sesuai dengan yang Allah mau. Tetap dalam ridhoNya dan senantiasa mohon perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk....

SELAMAT BERJUANG!!!
(celoteh kenangan dari ukhty Zhae Dian)
Continue Reading...
 

Sabaqaka Ukasyah Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon

Modified by Abu Hamzah for Ukasyah Habiby